Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Lupa Namanya, Tapi Jangan Lupa Adabnya

·2 menit baca

By. Satria hadi lubis
KADANG kita mengalami situasi yang canggung. Seseorang datang menyapa dengan sangat akrab. “Assalamu’alaikum, apa kabar?” Ia tersenyum hangat. Seolah kita sudah lama saling mengenal.
Masalahnya satu : kita lupa siapa dia. Bahkan namanya pun tidak ingat. Situasi seperti ini sering membuat kita panik. Ada yang memilih pura-pura ingat. Ada yang malah menghindar karena takut salah menyebut nama.
Padahal, yang paling penting dalam pergaulan bukanlah ingatan kita yang sempurna, tetapi adab kita kepada manusia. Balaslah sapaannya dengan hangat. Tersenyumlah. Tunjukkan bahwa kita menghargainya. Karena bagi banyak orang, disapa kembali dengan ramah sudah cukup membuat hati mereka senang.
Jika memang tidak ingat dan lupa namanya, tidak perlu gengsi. Katakan saja dengan jujur dan sopan, “Maafkan saya, saya ingat wajahnya tapi takut salah menyebut nama. Boleh diingatkan lagi?” Kalimat sederhana seperti itu justru menunjukkan kerendahan hati.
Dalam Islam, memuliakan manusia adalah akhlak yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Senyum, sapaan yang baik, dan sikap menghargai adalah bagian dari sedekah.
Manusia memang makhluk yang mudah lupa. Bahkan kata insan dalam bahasa Arab sering dikaitkan dengan sifat nisyan, yaitu lupa. Maka lupa nama orang bukanlah dosa.
Yang menjadi masalah adalah jika kita lupa adab. Karena pada akhirnya, banyak orang mungkin tidak ingat apa yang kita katakan. Tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana kita memperlakukan mereka.
“Janganlah kamu menganggap remeh sedikitpun terhadap kebaikan, walaupun kamu hanya bermanis muka kepada saudaramu (sesama muslim) ketika bertemu.” (HR. Muslim)
Jadi jika suatu hari ada orang menyapa kita dengan akrab sementara kita lupa siapa dia, jangan panik. Lupa namanya tidak apa-apa. Yang penting jangan lupa menghormatinya.
Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya