Kembali ke artikel
Ramadhan : Bulan Sedekah
·2 menit baca
By. Satria hadi lubis
RAMADHAN bukan hanya bulan menahan lapar. Ia adalah bulan melembutkan hati. Bulan ketika tangan yang biasanya menggenggam, belajar untuk membuka.
Di bulan ini, rasa lapar bukan sekadar ibadah fisik. Ia adalah pendidikan jiwa. Ketika perut kosong, kita mulai memahami apa yang setiap hari dirasakan oleh fakir miskin. Ketika tenggorokan kering, kita belajar arti seteguk air bagi mereka yang hidup dalam kekurangan. Dan di situlah sedekah menemukan maknanya.
Rasulullah saw adalah manusia paling dermawan. Dan kedermawanan beliau semakin bertambah di bulan Ramadhan. Seakan-akan Ramadhan adalah musim semi bagi kebaikan. Siapa yang menanam, akan memanen pahala berlipat.
Mengapa sedekah di Ramadhan terasa berbeda?
Karena di bulan Ramadhan, pahala dilipatgandakan. Hati juga lebih mudah tersentuh. Dan kita lebih sadar bahwa hidup ini sementara.
Sedekah bukan soal jumlahnya. Ia soal cinta.
Bukan soal besar kecil nominal. Ia soal besar kecil iman.
Ada yang bersedekah dengan uang.
Ada yang bersedekah dengan makanan berbuka.
Ada yang bersedekah dengan tenaga.
Ada yang bersedekah dengan doa yang diam-diam.
Ramadhan mengajarkan kita bahwa harta bukan untuk ditumpuk, tetapi untuk mengalir. Air yang mengalir itu bersih. Harta yang mengalir itu berkah.
Bukankah sering kita rasakan?
Semakin kita memberi, justru hati semakin lapang.
Semakin kita berbagi, justru hidup terasa cukup.
Karena sesungguhnya, yang kita berikan tidak pernah hilang. Ia sedang menunggu kita di akhirat.
Jangan tunggu kaya untuk bersedekah.
Justru bersedekahlah agar Allah cukupkan.
Bisa jadi, satu paket makanan berbuka yang kita berikan, menjadi sebab Allah ampuni dosa kita.
Bisa jadi, satu transfer kecil yang kita kirim, menjadi saksi di hari hisab.
Bisa jadi, satu amplop yang kita selipkan diam-diam, menjadi cahaya di kubur kita.
Ramadhan akan pergi.
Tapi sedekah yang kita lakukan, tidak pernah pergi.
Ia menetap.
Ia tumbuh.
Ia menunggu.
Bagikan:WhatsApp