Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Ibu, Kan Kujaga Selalu Pesanmu...

·4 menit baca

"Ibu, kan kujaga selalu pesanmu..."


Kalimat itu begitu sederhana, tetapi ketika seorang ibu telah tiada, ia berubah menjadi doa yang dipenuhi air mata. Banyak anak yang baru menyadari betapa berharganya nasihat seorang ibu ketika suara itu tak lagi terdengar.


Sejak kita lahir, ibu adalah orang pertama yang mencintai kita tanpa syarat. Ketika kita belum mampu berjalan, ia menggendong. Ketika kita belum mampu berbicara, ia memahami tangisan kita. Ketika kita sakit, ia rela tidak tidur semalaman. Ketika kita gagal, ia menjadi orang pertama yang menguatkan. Ketika semua orang meragukan kita, ibu tetap percaya bahwa anaknya bisa bangkit. Begitulah cinta seorang ibu. Cinta yang tidak meminta balasan.


Ironisnya, ketika ibu mulai menua, justru banyak anak yang mulai sibuk dengan dunianya sendiri. Allah Ta'ala mengingatkan:


"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua..." (QS. Al-Isra': 23).


Perhatikan urutannya. Setelah perintah mentauhidkan Allah, langsung disusul perintah berbakti kepada orang tua. Ini menunjukkan betapa agung kedudukan mereka.


Ada sebuah kenyataan yang sering membuat hati tersentuh.

Satu ibu mampu membesarkan banyak anak. Namun, banyak anak terkadang merasa berat merawat satu ibu.

Dulu ibu membagi makanannya agar anak-anaknya kenyang. Kini, ada ibu yang harus menunggu anak-anaknya untuk sekadar mengantarnya berobat.

Dulu ibu rela berpanas-panasan berjualan demi biaya sekolah anaknya. Kini, sebagian anak merasa terlalu sibuk hanya untuk menemani ibunya berbincang beberapa menit.


Padahal Rasulullah saw menempatkan ibu pada kedudukan yang sangat mulia. Seorang pria datang kepada Rasulullah saw dan bertanya, 'Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku perlakukan dengan baik?' Nabi saw menjawab, 'Ibumu.' Pria itu bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi saw menjawab, 'Ibumu.' Pria itu bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi saw menjawab, 'Ibumu.' Pria itu bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi saw menjawab, 'Ayahmu.'" (HR. Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548)


Mengapa sampai tiga kali?


Karena pengorbanan seorang ibu memang luar biasa. Mengandung dengan susah payah, melahirkan dengan taruhan nyawa, menyusui, mendidik, mendoakan, dan terus memikirkan anaknya bahkan ketika anak itu telah berkeluarga.


Maka jagalah ibu saat ia menjadi lemah.

Ada saatnya tangan yang dahulu menggendong kita mulai gemetar.

Langkahnya melambat.

Pendengarannya berkurang.

Ingatannya mulai melemah.


Di saat itulah Allah sedang menguji kita.

Apakah kita akan membalas kasih sayangnya?

Ataukah kita justru merasa kehadirannya menjadi beban?


"Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah', jangan membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra': 23)


Ayat ini tidak hanya melarang membentak, bahkan mengucapkan kata yang menunjukkan kejengkelan pun dilarang.


Mungkin ibu pernah menasehati kita dengan kata-kata menyakitkan. Namun renungkanlah....


Berapa banyak ibu yang memarahi anaknya karena ingin anaknya menjadi pemabuk?

Berapa banyak ibu yang menginginkan anaknya menjadi pezina?

Berapa banyak ibu yang bangga melihat anaknya terjerumus dalam penyimpangan seksual?

Berapa banyak ibu yang bercita-cita anaknya menjadi koruptor?


Tidak ada!


Kalaupun ibu marah, biasanya karena ia takut anaknya salah jalan.

Ia ingin anaknya menjaga salat.

Ia ingin anaknya memiliki akhlak.

Ia ingin anaknya jujur.

Ia ingin anaknya hidup halal.

Ia ingin anaknya menjadi manusia yang dicintai Allah.


Mungkin cara penyampaiannya kurang tepat menurut kita. Namun, cintanya hampir selalu tulus.


Karena itu, jangan hanya mendengar nada bicaranya. Dengarkan pula kasih sayang yang tersembunyi di balik setiap nasihatnya.


Akhirnya, penyesalan selalu datang terlambat.

Banyak anak baru menyesal ketika berdiri di samping kuburan ibunya.

Baru teringat panggilan yang tak sempat dijawab.

Pesan yang diabaikan.

Pelukan yang ditunda.


Namun waktu tidak pernah kembali.


Karena itu, selagi ibu masih ada, duduklah di sampingnya.

Dengarkan ceritanya meskipun telah berulang.

Gandeng tangannya.

Antarkan ke dokter.

Belikan kebutuhannya.

Doakan setiap selesai salat.

Peluklah sebelum semuanya menjadi kenangan.


Ibu, kan kujaga selalu pesanmu...


Kelak, ketika ibu telah kembali kepada Allah, mungkin yang tersisa hanyalah kenangan dan doa. Tetapi ada satu cara agar cinta kepada ibu tidak pernah berhenti, yaitu menjaga semua pesan baik yang pernah ia titipkan.


Menjaga salat karena ibu mengajarkannya.

Menjaga kejujuran karena ibu membiasakannya.

Menjaga kehormatan diri karena ibu selalu mengingatkannya.

Menjauhi maksiat karena ibu tidak ingin melihat anaknya jauh dari Allah.

Menjadi pribadi yang amanah karena ibu tidak ingin anaknya menjadi pengkhianat atau koruptor.


Itulah hadiah terindah bagi seorang ibu.

Bukan rumah mewah.

Bukan kendaraan mahal.

Tetapi melihat anaknya menjadi hamba Allah yang saleh.


Maka, selagi ibu masih ada, bahagiakanlah ia. Dan bila ibu telah tiada, jangan biarkan nasihatnya ikut terkubur. Hidupkan pesan-pesannya dalam setiap langkah kehidupan.


Sebab, anak yang paling mencintai ibunya bukanlah yang paling sering berkata, "Aku sayang Ibu," melainkan yang paling setia menjaga semua pesan baik yang pernah diajarkan ibunya hingga akhir hayatnya. 

Bagikan:WhatsApp