Jadilah Pemain, Bukan Penonton
Ada dua cara menjalani kehidupan ini. Menjadi pemain atau menjadi penonton.
Pemain adalah mereka yang turun ke lapangan. Mereka mengambil peran, memikul tanggung jawab, menghadapi risiko, dan berusaha menghadirkan perubahan. Sementara penonton hanya melihat, mengomentari, mengkritik, atau bahkan mencela dari kejauhan tanpa ikut memberikan solusi.
Dalam pertandingan sepak bola, sejarah tidak mencatat siapa penontonnya. Sejarah mencatat siapa yang mencetak gol, siapa yang berjuang hingga peluit akhir, dan siapa yang mengubah jalannya pertandingan. Begitu pula kehidupan. Dunia tidak berubah oleh banyaknya komentar, tetapi oleh orang-orang yang mau bertindak.
Islam tidak pernah mendidik umatnya menjadi manusia pasif. Seorang muslim adalah pembawa rahmat, pembangun peradaban, dan agen perubahan. Allah SWT berfirman:
"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110)
Perhatikan ayat ini. Allah tidak mengatakan bahwa umat terbaik adalah umat yang paling banyak mengeluh, paling pandai mengkritik, atau paling ramai berdebat. Umat terbaik adalah mereka yang berbuat, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Imam Ibnu Taimiyah pernah menegaskan bahwa Allah akan menegakkan sebuah negara yang adil meskipun dipimpin oleh orang zalim, tetapi tidak akan menegakkan negara yang zalim meskipun dipimpin oleh orang yang mengaku muslim. Pesan ini menunjukkan bahwa Islam menuntut umatnya membangun sistem yang baik, menghadirkan keadilan, dan mengambil peran nyata dalam kehidupan.
Sejarah membuktikan bahwa perubahan besar selalu dimulai oleh orang-orang yang memilih menjadi pemain. Nabi Muhammad saw tidak hanya menyampaikan wahyu. Beliau membangun masyarakat, mendidik generasi, mempersaudarakan kaum yang bermusuhan, membentuk pemerintahan, mengatur ekonomi, hingga melahirkan peradaban yang mempengaruhi dunia selama ribuan tahun.
Para sahabat juga demikian. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra menjaga persatuan umat ketika terjadi krisis. Umar bin Khattab ra membangun sistem pemerintahan yang kuat dan adil. Utsman bin Affan ra menyatukan mushaf Al-Qur'an. Ali bin Abi Thalib ra menunjukkan kepemimpinan yang penuh hikmah di tengah ujian yang berat. Mereka tidak menjadi penonton sejarah. Mereka menciptakan sejarah.
Peradaban tidak hanya dibangun oleh presiden, menteri, atau tokoh besar.
Seorang guru atau murobbi yang melahirkan ratusan murid berakhlak adalah pemain.
Seorang dosen yang menghasilkan ilmu bermanfaat adalah pemain.
Seorang pengusaha yang membuka lapangan kerja dengan cara halal adalah pemain.
Seorang ayah dan ibu yang mendidik keluarganya menjadi keluarga bertakwa adalah pemain.
Seorang pemuda yang aktif menebarkan gagasan dan solusi juga pemain.
Sebaliknya, seseorang yang setiap hari hanya sibuk menyalahkan keadaan, menyebarkan pesimisme, atau sekadar menjadi penikmat media sosial tanpa menghasilkan manfaat, perlahan sedang memilih posisi sebagai penonton.
Perlu juga dipahami bahwa perubahan terbesar bukan perubahan ekonomi atau teknologi, tetapi perubahan hati manusia. Karena itu, pemain sejati dalam Islam adalah orang yang menyebarkan ketakwaan. Ia mengajak dengan hikmah. Ia berdakwah dengan akhlak. Ia memperlihatkan kejujuran dalam pekerjaan. Ia menghadirkan Islam sebagai solusi, bukan sekadar slogan. Rasulullah saw bersabda:
"Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat." (HR. al-Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa setiap muslim memiliki peran. Tidak semua menjadi ulama, tetapi semua dapat menjadi pemain yang menyampaikan kebaikan sesuai kemampuan.
Mengapa banyak orang memilih menjadi penonton?
Karena menjadi pemain tidak mudah. Menjadi pemain berarti siap dikritik. Siap gagal. Siap lelah, dan siap berkorban. Sedangkan menjadi penonton jauh lebih nyaman. Tinggal mengomentari hasil kerja orang lain dan tak peduli nasib peradaban.
Pengamat politik Amerika Theodore Roosevelt dalam pidatonya yang terkenal, "The Man in the Arena", menyampaikan bahwa penghargaan sejati bukan diberikan kepada orang yang hanya mengkritik dari luar arena, melainkan kepada orang yang benar-benar turun berjuang, meskipun berkali-kali gagal. Gagasan ini selaras dengan semangat Islam yang menghargai amal dan ikhtiar, bukan sekadar komentar.
Lalu bagaimana caranya untuk menjadi pemain?
Pertama, milikilah visi hidup. Jangan sekadar bertanya, "Saya ingin menjadi apa?" tetapi bertanyalah, "Manfaat apa yang ingin saya tinggalkan?"
Kedua, luruskan niat karena Allah. Ambisi tanpa keikhlasan hanya melahirkan kelelahan. Tetapi amal yang diniatkan karena Allah berubah menjadi ibadah.
Ketiga, terus belajar. Ilmu adalah bahan bakar perubahan. Dengan ilmu, lahirlah adab dan ketakwaan. Dan dengan adab tersebarlah peradaban yang baik.
Keempat, mulai dari hal kecil. Dakwah tidak harus selalu di atas mimbar. Senyum, membantu teman, menulis artikel, mendidik anak, menjaga amanah pekerjaan, semuanya bagian dari membangun peradaban.
Kelima, bergabung dengan komunitas kebaikan. Perubahan besar lahir dari kerja sama orang-orang sholih. Karena itu, penting untuk berada dalam komunitas tarbiyah, yaitu komunitas yang selalu belajar dan mengajar sambil terus beramal bersama.
Apakah menjadi pemain akan lelah? Ya pasti! Tapi lelahnya Lillah.
Semua pemain pasti lelah. Namun lelahnya seorang mukmin berbeda dengan lelahnya seorang yang tak beriman, yang berbuat tanpa Lillah, tanpa mencari ridho Allah SWT.
"Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik." (QS. Al-Kahfi: 30)
Tidak ada kebaikan yang hilang di sisi Allah. Bahkan jika dunia tidak menghargainya, Allah menghitung setiap langkah, setiap tetes keringat, dan setiap pengorbanannya.
Akhirnya, seorang pemain yang Lillah akan bahagia di dunia dan selamat di akhirat. Sebab kebahagiaan sejati bukan karena berhasil mencapai jabatan tertentu atau kekayaan.
Kebahagiaan sejati adalah ketika kita mengetahui bahwa hidup ini memiliki makna, bahwa kehadiran kita membuat orang lain lebih dekat kepada Allah, lebih berilmu, lebih jujur, dan lebih bermanfaat. Saat itulah kita merasakan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli oleh apa pun.
Semoga saat ajal tiba, kita bukan termasuk orang yang berkata, "Seandainya dulu aku berbuat lebih banyak." Sebaliknya, kita berharap menghadap Allah dengan hati puas lagi diridhoi-Nya karena membawa amal yang banyak, jejak kebaikan yang tersebar, dan berhasil mencetak generasi pelanjut perjuangan.
Jadi, jangan menjadi penonton yang sibuk berkomentar dan asyik dengan diri sendiri. Jadilah pemain yang menghadirkan solusi. Jadilah pemimpin perubahan peradaban. Jadilah penyebar ketakwaan. Mungkin engkau akan lelah, tetapi lelahmu karena Allah. Dan lelah yang lillah akan berubah menjadi kebahagiaan di dunia serta keselamatan di akhirat, insya Allah.