KECERDASAN MENGUMPULKAN PAHALA (The Intelligence to Collect Rewards)
KECERDASAN MENGUMPULKAN PAHALA
(The Intelligence to Collect Rewards)
By. Satria hadi lubis
BANYAK orang berlomba menjadi cerdas. Ada yang mengejar kecerdasan akademik, kecerdasan bisnis, kecerdasan teknologi, kecerdasan sosial, bahkan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Semua itu penting dan bermanfaat.
Namun, ada satu kecerdasan yang jauh lebih tinggi nilainya. Yaitu, kecerdasan mengumpulkan pahala dan menjauhi dosa. Inilah kecerdasan yang menentukan nasib manusia, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Orang yang cerdas bukan sekadar pandai mencari uang, tetapi pandai mengubah setiap aktivitasnya menjadi ibadah. Bekerja menjadi pahala. Mendidik anak menjadi pahala. Menuntut ilmu menjadi pahala. Menolong sesama menjadi pahala. Bahkan makan, tidur, berolahraga, dan rekreasi pun dapat menjadi pahala apabila diniatkan karena Allah dan dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah saw.
Sebaliknya, ada orang yang sangat cerdas menurut ukuran dunia, tetapi setiap hari justru sibuk mengumpulkan dosa. Lisannya melukai orang lain. Matanya memandang yang haram. Tangannya mengambil yang bukan haknya. Hartanya bercampur dengan yang haram. Akalnya hebat, tetapi catatan amalnya semakin berat oleh dosa.
Kecerdasan mengumpulkan pahala pada hakikatnya adalah kecerdasan mencari ridha Allah dan keberkahan-Nya. Dengan selalu mencari ridha Allah SWT hati menjadi tenang. Keberkahan hadir dalam hidup kita, sehingga yang sedikit terasa cukup, yang sempit menjadi lapang, dan yang sulit menjadi mudah. Itulah kesuksesan yang hakiki: tenang dan barokah di dunia dan selamat di akhirat.
Apalagi hidup di dunia ini sangat singkat. Allah Ta’ala mengingatkan:
"Allah berfirman, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari....'" (QS. Al-Mu'minun: 112–113).»
Di hadapan kehidupan akhirat yang abadi, puluhan tahun usia kita di dunia terasa seperti sehari atau bahkan setengah hari saja.
Karena hidup begitu singkat, jangan habiskan waktu untuk hal-hal yang sia-sia. Jangan biarkan berjam-jam berlalu hanya untuk hiburan tanpa manfaat, perdebatan yang tidak berguna, atau scrolling media sosial tanpa tujuan. Lebih buruk lagi jika waktu itu justru digunakan untuk bermaksiat sehingga bukan hanya tidak menghasilkan pahala, tetapi juga menambah dosa.
Setiap menit yang berlalu tidak akan pernah kembali. Waktu yang hilang tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun. Karena itu, orang yang cerdas akan selalu bertanya, "Apakah aktivitas ini menambah pahala atau justru mengurangi bekalku menuju akhirat?" Rasulullah saw juga mengingatkan:
"Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. al-Hakim)»
Seorang mukmin memang bisa berharap kepada Rahmat Allah SWT atau syafa'at Nabi saw dan syafa'at lainnya untuk masuk surga, tetapi harapan itu jangan menjadi andalan untuk masuk surga. Jadikan kesungguhan dalam beramal sholih, mengumpulkan pahala dan menjauhi dosa sebagai andalan untuk bekal masuk surga Allah SWT. Rahmat Allah dan syafa'at yang kita harapkan, bukan dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dalam beramal.
Maka biasakanlah bertanya sebelum melakukan sesuatu:
"Apakah ini mendekatkanku kepada ridha Allah?"
"Apakah ini menambah pahala atau justru menambah dosa?"
Sebab pada akhirnya, orang yang paling cerdas bukanlah yang memiliki gelar paling tinggi, harta paling banyak, atau jabatan paling besar. Orang yang paling cerdas adalah mereka yang paling pandai mengumpulkan pahala dalam hidupnya yang singkat ini. Orang yang paling hati-hati menjauhi dosa dan paling bersungguh-sungguh mencari ridha Allah Ta'ala.
"Semua kecerdasan yang Anda miliki tak ada gunanya, jika tidak bergerak di dalam Kecerdasan Mengumpulkan Pahala (The Intelligence to Collect Rewards)"