Kejar Prestasi Dunia, Abai Prestasi Akhirat
Banyak orang sangat serius mengejar prestasi dunia. Mereka rela begadang demi kenaikan jabatan. Mereka mengikuti berbagai pelatihan agar karier semakin cemerlang. Mereka bangga ketika mendapatkan penghargaan, gelar akademik, promosi jabatan, atau pencapaian bisnis.
Semua itu tidak salah. Islam bahkan mendorong umatnya untuk bekerja dengan profesional dan memberikan yang terbaik. Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya." (HR. Thabrani)
Namun ada sebuah ironi yang sering terjadi. Kita sangat bersemangat mengejar prestasi dunia, tetapi sangat santai dalam urusan prestasi akhirat.
Kita hafal target karier lima tahun ke depan, tetapi tidak memiliki target berapa juz Al-Qur'an yang ingin kita hafal.
Kita tahu kapan harus mengikuti sertifikasi profesi, tetapi tidak tahu kapan terakhir kali menghadiri majelis ilmu.
Kita memiliki rencana investasi yang detail, tetapi tidak memiliki rencana amal jariyah yang jelas.
Kita bangga ketika nama kita disebut dalam acara penghargaan, tetapi jarang memikirkan apakah nama kita dikenal oleh penduduk langit sebagai hamba yang taat.
Padahal kehidupan dunia sangat singkat.
Jabatan akan berakhir.
Kekayaan akan ditinggalkan.
Popularitas akan memudar.
Tetapi amal saleh akan menemani kita sampai ke alam kubur dan akhirat. Allah SWT berfirman:
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash: 77)
Perhatikan urutannya. Allah tidak mengatakan, "Carilah dunia lalu jangan lupakan akhirat." Justru Allah mendahulukan akhirat, lalu dunia ditempatkan sebagai pelengkap.
Sayangnya banyak orang membalik urutan ini. Mereka menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan akhirat sebagai urusan sampingan. Akibatnya, energi terbaik, waktu terbaik, dan pikiran terbaik mereka habiskan untuk dunia, sementara sisa-sisanya diberikan untuk Allah.
Bayangkan jika semangat yang kita miliki untuk mengejar jabatan juga kita miliki untuk mengejar surga.
Bayangkan jika kesungguhan yang kita curahkan untuk menambah penghasilan juga kita curahkan untuk menambah amal saleh.
Bayangkan jika target-target dunia kita lengkapi dengan target-target akhirat.
Target shalat berjamaah.
Target membaca Al-Qur'an.
Target sedekah.
Target dakwah dan membina.
Target membantu sesama.
Target memperbaiki akhlak.
Target menghafal Al-Qur'an.
Target menjadi hamba yang lebih dekat kepada Allah Ta'ala.
Orang yang cerdas bukanlah orang yang hanya sukses di dunia.
Orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang mampu menjadikan prestasi dunianya sebagai kendaraan menuju prestasi akhirat.
Karena pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan bertanya berapa banyak penghargaan yang kita kumpulkan. Yang akan menentukan nasib kita adalah berapa banyak amal yang kita persembahkan.
Maka bekerjalah dengan sungguh-sungguh.
Berprestasilah setinggi mungkin.
Raihlah gelar, jabatan, dan kesuksesan yang halal.
Tetapi jangan sampai semangat mengejar prestasi dunia membuat kita lalai mengejar prestasi yang jauh lebih penting: prestasi di hadapan Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang oleh langit karena jabatannya, melainkan karena ketakwaannya. Dan kemenangan yang sesungguhnya bukanlah ketika nama kita terkenal di dunia, tetapi ketika Allah ridha kepada kita dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.