Keluarga Itu Ruang Ujian Tauhid
BANYAK orang mengira ujian tauhid hanya terjadi ketika seseorang dihadapkan pada ancaman terhadap akidahnya. Padahal, ujian tauhid yang paling sering datang justru berada di tempat yang paling kita cintai: keluarga.
Suami, istri, dan anak adalah nikmat yang luar biasa. Namun, pada saat yang sama, mereka juga dapat menjadi batu ujian tauhid. Pertanyaannya bukan, "Apakah kita mencintai keluarga?" Islam justru memerintahkan kita mencintai dan menyayangi mereka. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah cinta kepada keluarga masih berada di bawah cinta kita kepada Allah, atau justru telah menggeser posisi Allah di hati kita?
"Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." (QS. At-Taubah: 24)
Ayat ini sangat tegas. Allah tidak melarang mencintai keluarga. Yang dilarang adalah menempatkan cinta kepada mereka lebih tinggi daripada cinta kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka..." (QS. At-Taghabun: 14)
Maksudnya, bukan mereka selalu jahat, tetapi terkadang rasa cinta kepada keluarga membuat seseorang mengabaikan perintah Allah atau melakukan larangan-Nya.
Ada suami yang sangat posesif terhadap istri karena kuatir istrinya main mata dengan pria lain.
Ada istri yang sangat cinta kepada suami, sehingga selalu curiga suaminya selingkuh.
Ada orang tua yang membela anaknya yang salah karena mencintai anaknya secara berlebihan.
Ada pula seseorang yang rela korupsi karena takut keluarganya kehilangan kenyamanan hidup.
Semua itu menunjukkan adanya rasa cinta dan takut kepada manusia yang mulai mengalahkan rasa cinta dan takut kepada Allah Ta'ala. Padahal Allah berfirman,
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah." (QS. Al-Baqarah: 165)
"...Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman." (QS. Ali 'Imran: 175)
Rasulullah saw adalah manusia yang paling mencintai keluarganya. Beliau sangat menyayangi istri-istrinya, mencintai putri-putrinya, dan memanjakan cucu-cucunya. Namun, ketika menyangkut ketaatan kepada Allah, beliau tidak pernah berkompromi. Beliau pernah bersabda kepada putrinya, Fatimah binti Muhammad:
"Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah kepadaku apa yang kamu kehendaki dari hartaku, tetapi aku tidak dapat menyelamatkanmu dari azab Allah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Para sahabat juga mendahulukan Allah SWT. Ketika hijrah ke Madinah, banyak sahabat harus meninggalkan rumah, harta, bahkan keluarga demi mempertahankan iman. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra mengorbankan hampir seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Mus'ab bin Umair ra yang dahulu hidup bergelimang kemewahan rela kehilangan semuanya karena memilih Islam. Ia bahkan dijauhi keluarganya, tetapi tetap teguh mempertahankan keimanan. Bagi mereka, keluarga sangat dicintai, tetapi Allah tetap yang paling dicintai.
Para ulama juga mendahului Tauhid di tengah keluarganya. Hasan al-Bashri pernah mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Keluarga adalah amanah, bukan tujuan akhir. Karena itu, seorang mukmin harus mendidik keluarganya agar bersama-sama menuju surga, bukan saling menarik kepada kelalaian.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa hati manusia tidak akan memperoleh ketenangan sejati kecuali ketika Allah menjadi tujuan utamanya. Jika hati menggantungkan kebahagiaan secara mutlak kepada selain Allah, maka hati itu akan mudah gelisah ketika kehilangan apa yang dicintainya.
Jadi, rumah tangga yang kokoh bukanlah rumah tangga yang menjadikan pasangan dan anak-anak sebagai pusat kehidupan, tetapi rumah tangga yang menjadikan Allah SWT sebagai pusatnya.
Suami mencintai istri karena Allah.
Istri menghormati suami karena Allah.
Orang tua mendidik anak karena Allah.
Anak berbakti kepada orang tua karena Allah.
Ketika Allah menjadi pusat cinta, maka cinta kepada keluarga menjadi lebih bersih, lebih tulus, dan lebih kuat, tidak baper (bawa perasaan) berlebihan. Sebaliknya, jika keluarga menjadi "tuhan kecil" yang selalu harus dituruti meski melanggar syariat, maka keluarga dapat merusak fondasi Tauhid kita. Kita menjadi musyrik (mempersekutukan Tuhan) tanpa kita sadari.
Kesimpulannya...
Rumah tangga bukan hanya tempat berbagi kasih sayang, tetapi juga madrasah tauhid. Di sanalah kita diuji: apakah cinta, takut, harap, dan pengorbanan kita tetap bermuara kepada Allah atau telah bergeser kepada makhluk.
Maka, cintailah pasangan dan anak dengan sepenuh hati, tetapi jangan pernah engkau mencintai mereka melebihi Allah Ta’ala. Sayangilah mereka dengan sebaik-baiknya, tetapi jangan sampai rasa sayang itu membuatmu meninggalkan perintah-Nya. Takutlah kehilangan mereka sebagai fitrah manusia, namun jangan sampai rasa takut itu mengalahkan rasa takutmu kepada Allah SWT.
"Keluarga adalah ruang ujian Tauhid. Dimana taat, cinta, takut, dan harapan kepada keluarga tak boleh melebihi kepada Allah"