Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Maka Nikmat Tuhan Kamu Yang Manakah Yang Kamu Dustakan?

·2 menit baca

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman)


Ada satu ayat dalam Al-Qur'an yang diulang berkali-kali dalam Surah Ar-Rahman. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tetapi 31 kali Allah mengajukan pertanyaan yang sama:


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman)


Mengapa Allah SWT mengulanginya?


Karena manusia sangat mudah menikmati nikmat, tetapi sangat mudah pula melupakannya. Kita lebih cepat menghitung apa yang belum kita miliki daripada mensyukuri apa yang telah Allah karuniakan.


Padahal, setiap detik hidup kita dipenuhi nikmat yang tak terhitung.


Masih bisa bernapas tanpa alat bantu.

Masih diberi kesehatan.

Masih memiliki keluarga.

Masih diberi kesempatan bertobat.

Masih dapat sujud kepada Allah.

Bahkan ujian yang kita hadapi pun sering kali jauh lebih ringan dibandingkan musibah yang Allah jauhkan dari diri kita.


Semua itu adalah nikmat. Allah Ta'ala berfirman,


"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34)


Lalu apa ciri orang yang melupakan nikmat Allah (kurang bersyukur)?


1. Terlalu fokus pada kekurangan.

Ia selalu merasa hidupnya kurang, meskipun telah memiliki banyak karunia.


2. Gemar mengeluh.

Keluhan lebih sering keluar daripada ucapan "Alhamdulillah."


3. Membandingkan diri dengan orang yang lebih tinggi urusan dunianya.

Akibatnya hati selalu merasa tertinggal dan tidak pernah puas.


4. Menggunakan nikmat untuk bermaksiat.

Harta, ilmu, jabatan, waktu, dan kesehatan tidak dipakai untuk mendekat kepada Allah, tetapi justru untuk menjauh dari-Nya.


5. Lupa kepada Sang Pemberi Nikmat.

Ia menikmati pemberian Allah, tetapi jarang mengingat, memuji, dan bersyukur kepada-Nya.


Dampak dari kurang bersyukur adalah kebahagiaan ikut memudar. Hati menjadi sempit, iri mudah tumbuh, dan kehidupan terasa selalu kurang. Yang lebih berat lagi, seseorang bisa kehilangan keberkahan, bahkan nikmat itu sendiri.


Sebaliknya, Allah memberikan janji yang sangat indah,


"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)


Dalam ayat ini, Allah SWT tidak hanya menjanjikan tambahan harta. Allah menjanjikan tambahan keberkahan, ketenangan hati, kesehatan, keluarga yang harmonis, kemudahan urusan, hingga pahala di akhirat.


Lihat kehidupan kita hari ini...


Masihkah kita menganggap semua yang kita miliki sebagai sesuatu yang biasa? Ataukah kita mulai menyadari bahwa setiap hembusan napas adalah hadiah dari Allah? 


Jangan sampai kita baru menyadari besarnya nikmat setelah nikmat itu dicabut.


Hari ini, mari perbanyak mengucapkan "Alhamdulillah," gunakan setiap nikmat untuk taat kepada Allah, untuk beribadah, berdakwah, dan memberikan manfaat kepada banyak orang. 


Jadikan rasa syukur sebagai jalan menuju keberkahan hidup. Sebab pada akhirnya, pertanyaan Allah dalam Surah Ar-Rahman bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk dijawab dengan kehidupan yang penuh syukur.


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya