Menangis Bahagia Atau Menangis Sedih?
AIR MATA adalah bahasa jiwa. Ia jatuh tanpa perlu izin, mengalir tanpa perlu alasan yang selalu bisa dijelaskan. Namun tidak semua tangisan sama. Ada tangisan yang lahir dari luka, ada pula yang lahir dari rasa syukur. Dalam Islam, bahkan air mata bisa menjadi tanda kelembutan hati atau sebaliknya, tanda rapuhnya iman.
Menangis sedih biasanya lahir dari kehilangan, kekecewaan, atau rasa sakit yang dalam. Hati terasa sempit, dada sesak, dan pikiran dipenuhi kegelisahan. Tangisan ini manusiawi. Bahkan para nabi pun menangis. Nabi Ya’qub as menangis karena kehilangan anaknya, Nabi Yusuf as, hingga penglihatannya memutih. Itu bukan tanda lemah, tetapi tanda cinta yang dalam.
Namun, Islam mengajarkan agar kesedihan tidak menyeret kita pada keputusasaan. Tangisan sedih yang benar adalah yang tetap terikat kepada Allah. Ia mengadu, bukan menyalahkan. Ia bersandar, bukan memberontak. Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Yusuf: 87)
Tangisan sedih yang tidak diarahkan kepada Allah bisa berubah menjadi keluhan tanpa arah. Bahkan bisa berkembang menjadi kesedihan permanen, depresi dan keinginan mengakhiri hidup. Namun jika dibawa dalam doa, kekhsyukan sujud, dan harapan mendalam pada pertolongan Allah, maka ia menjadi ibadah.
Berbeda dengan menangis sedih, menangis bahagia lahir dari kesadaran akan nikmat dan kedekatan dengan Allah. Ia bukan karena dunia yang sempurna, tetapi karena hati yang bersyukur. Ketika seseorang menyadari betapa Allah telah menolongnya, mengampuninya, atau sekadar memberinya kesempatan untuk kembali, maka air mata bisa jatuh. Air mata cinta, bukan air mata karena luka.
Rasulullah saw bersabda bahwa di antara golongan yang mendapat naungan Allah adalah seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu kedua matanya berlinang air mata. Ini adalah tangisan yang lahir dari iman, dari rasa takut dan haru karena merasa dekat dengan Rabb-nya.
"...dan seseorang yang bila mengingat Allah sendirian air matanya mengalir" (HR. Bukhari no. 1423, Muslim no. 1031).
Tangisan bahagia itu menenangkan. Ia tidak membuat hati gelisah, justru membuat jiwa tenang. Setelah menangis, hati terasa lebih ringan, lebih dekat, lebih hidup. Ia bukan tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa hati masih peka.
Sementara tangisan sedih, jika tidak diarahkan, bisa membuat hati semakin berat. Ia bisa menyeret pada rasa putus asa, merasa sendiri, bahkan mempertanyakan takdir.
Di sinilah pentingnya iman, agar setiap tangisan, bahkan yang paling pahit sekalipun, tetap bermuara kepada Allah.
Perbedaan lainnya terletak pada dampaknya. Tangisan sedih bisa melemahkan iman, tetapi bisa menguatkan jika dibawa kepada Allah. Tangisan bahagia selalu menguatkan, karena ia lahir dari rasa syukur dan kedekatan.
Keduanya sebenarnya memiliki tempat dalam kehidupan seorang muslim. Kita tidak dituntut untuk selalu kuat tanpa air mata. Justru hati yang tidak pernah menangis perlu dipertanyakan. Rasulullah saw pernah mengingatkan bahwa di antara tanda kerasnya hati adalah mata yang sulit menangis.
Maka, jangan malu dengan air mata. Yang perlu dijaga adalah arah tangisan itu.
Jika engkau menangis karena sedih, bawalah ia kepada Allah.
Jika engkau menangis karena bahagia, kembalikan ia kepada Allah.
Karena pada akhirnya, air mata yang paling berharga bukan yang paling banyak, tetapi yang paling dekat dengan-Nya.