Mengapa Ikut Tarbiyah Membekas Lama?
Tidak semua jejak terlihat oleh mata.
Ada jejak yang tertinggal di dalam hati.
Dan salah satu jejak terdalam itu bernama tarbiyah. 🤍
Mungkin seseorang telah lama tidak hadir di halaqah. Kesibukan datang silih berganti. Amanah berubah. Lingkungan berganti. Wajah-wajah lama mulai jarang ditemui.
Namun, mengapa setiap kali mendengar lantunan ayat Al-Qur'an, melihat sekelompok orang duduk melingkar mempelajari Islam, atau bertemu sahabat-sahabat yang dulu pernah tarbiyah, dadanya terasa sesak oleh kerinduan?
Hal itu karena tarbiyah tidak hanya mengajarkan ilmu.
Ia membentuk cara berpikir.
Ia membentuk cara memandang kehidupan.
Ia membentuk hati.
Tarbiyah adalah tempat hati dibawa untuk selalu kembali mengingat Allah. Di sana Al-Qur'an dibaca, iman diperbarui, ukhuwah dirajut, dan cita-cita akhirat terus dihidupkan.
Boleh jadi seseorang pernah jauh melangkah. Tenggelam dalam kesibukan dunia. Tetapi nilai-nilai yang pernah ditanamkan dalam tarbiyah tak ikut pergi. Membekas dalam kebaikan yang masih dijalankan.
Ketika lisan hampir berdusta, ada suara hati yang menahan.
Ketika tangan hampir menerima uang haram, ada rasa takut kepada Allah.
Ketika langkah hampir berbuat maksiat, ada rasa malu kepada Allah.
Itulah "bekas" tarbiyah. ✨
Ketika dunia terasa sesak, yang dirindukan bukan hotel mewah, bukan liburan mahal, bukan jabatan tinggi.
Yang dirindukan justru duduk bersila bersama saudara seiman, membuka mushaf, saling menasihati, lalu menangis dalam doa. 🤲
Rasulullah saw bersabda,
"Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang dijadikan teman dekatnya." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Boleh jadi yang paling membekas dari tarbiyah bukan materi kajiannya. Melainkan orang-orang sholih yang pernah berjalan bersama kita. Doa-doa mereka. Pelukan mereka. Nasihat mereka. Air mata mereka. Semangat mereka. Dan ketulusan mereka.
Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah pernah berkata,
"Di dunia ini ada surga. Barang siapa tidak memasukinya, ia tidak akan masuk surga di akhirat."
Murid-murid beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah nikmatnya mengenal Allah, berzikir kepada-Nya, dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya.
Bukankah banyak orang pernah merasakan "surga dunia" itu justru ketika aktif dalam tarbiyah?
Hal itu disebabkan tarbiyah membuat seseorang merasa memiliki keluarga yang dipersatukan oleh iman, bukan oleh darah.
Lalu mengapa kerinduan itu tidak hilang?
Karena fitrah tidak pernah lupa kepada tempat di mana ia pernah tumbuh.
Iman mungkin melemah.
Semangat mungkin menurun.
Langkah mungkin sempat menyimpang.
Tetapi cahaya yang pernah Allah nyalakan tidak mudah dipadamkan. 🌟
Allah SWT berfirman
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (QS. At-Taubah: 119)
Karena itu, jangan malu untuk kembali.
Hubungi temanmu yang masih melingkar dalam tarbiyah.
Jangan merasa sudah terlalu jauh.
Jangan menunggu menjadi baik baru mau hadir.
Justru hadir agar kembali menjadi baik.
Bisikan nafsu selalu berkata, "Nanti saja kalau sudah siap."
Padahal Allah sedang membuka pintu hidayah-Nya hari ini.
Maka kalau hari ini hati masih bergetar ketika mendengar kata tarbiyah...
Kalau mata masih berkaca-kaca ketika mengenang halaqah...
Kalau dada masih sesak ketika melihat sahabat-sahabat dakwah...
Mungkin itu bukan sekadar kenangan.
Mungkin itu adalah cara Allah memanggil.
Panggilan sayang Allah agar engkau pulang. 🤍
Jangan sia-siakan panggilan itu.
Jangan biarkan waktu berlalu tanpa tarbiyah.
Karena sejatinya, yang paling dirindukan bukanlah halaqahnya.
Bukan pembinanya.
Bukan tempat pertemuannya.
Tetapi dirimu yang dulu...
Dirimu yang lebih dekat kepada Allah.
Dirimu yang lebih mudah menangis dalam sujud.
Dirimu yang lebih ringan bersedekah.
Dirimu yang lebih semangat berdakwah.
Dirimu yang hidupnya memiliki arah.
"Jika kerinduan itu masih ada, jangan padamkan. Bisa jadi itu adalah panggilan dari Allah agar engkau kembali berjalan bersama orang-orang yang saling menguatkan dalam kebaikan." 🌿