Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Respek Itu Kebutuhan Utama Suami

·3 menit baca

BANYAK istri yang mengira kebutuhan utama suami adalah makanan yang enak, rumah yang nyaman, atau pelayanan yang baik. Semua itu memang penting. Namun, ada satu kebutuhan yang sering terlupakan padahal sangat menentukan kebahagiaan seorang suami: respek (penghormatan).


Seorang laki-laki bisa bekerja keras siang dan malam, menghadapi tekanan hidup, menanggung berbagai tanggung jawab, karena ia merasa dihargai oleh keluarganya. Sebaliknya, banyak laki-laki yang kehilangan semangat ketika merasa usahanya tidak pernah dihormati dan pengorbanannya tidak pernah dianggap.


Bukan berarti suami ingin dipuja atau dianggap selalu benar. Tidak. Suami juga manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan. Namun, setiap laki-laki memiliki kebutuhan fitrah untuk merasa dihormati oleh orang-orang terdekatnya, terutama oleh istrinya.


Karena itu, Islam mengajarkan adab yang sangat indah dalam rumah tangga. Allah SWT berfirman:


"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Akan tetapi para suami mempunyai satu derajat kelebihan atas mereka." (QS. Al-Baqarah: 228)


Kelebihan yang dimaksud bukanlah hak untuk bersikap zalim, melainkan tanggung jawab kepemimpinan yang harus dijalankan dengan amanah. Dan setiap pemimpin membutuhkan dukungan serta respek (penghormatan) agar mampu menjalankan tugasnya dengan baik.


Ketika seorang istri menghargai pendapat suaminya, sering memujinya dengan tulus, menjaga kehormatannya di hadapan orang lain, dan mengakui usaha-usahanya meskipun belum sempurna, maka ia sedang membangun kekuatan besar di dalam jiwa suaminya.


Sebaliknya, istri yang tidak peduli kebutuhan suami berupa respek, dengan sering "menghabisi" upaya suaminya, mengkritik secara kasar, sindiran yang terus-menerus, menjelek-jelekkan suami di depan anaknya, atau membanding-bandingkan suami dengan laki-laki lain dapat meruntuhkan semangat yang selama ini ia bangun dengan susah payah. 


Kadang butuh waktu bagi suami untuk berubah sesuai keinginan istri, namun banyak istri yang tak sabar dengan perubahan lambat suami. Lalu akhirnya semua uneg-uneg istri disampaikan begitu saja tanpa filter. Padahal Rasulullah saw bersabda:


"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya." (HR. Tirmidzi)


Hadis ini mengingatkan bahwa suami harus memperlakukan istrinya dengan baik. Namun rumah tangga yang bahagia tidak dibangun oleh satu pihak saja. Suami membutuhkan cinta, dan cinta akan tumbuh lebih kuat ketika disertai respek dari istrinya.


Perlu diingat oleh setiap pasangan, bahwa kelemahan istri adalah di lisannya (KDRT secara psikis), sedang kelemahan suami di tangannya (KDRT secara fisik). Maka berhati-hatilah dengan lisan dan tangan agar tidak sembrono digunakan, yang bisa berujung pada penyesalan.


Pada akhirnya, laki-laki tidak selalu membutuhkan pujian yang besar. Kadang ia hanya membutuhkan kalimat sederhana:


"Terima kasih sudah berjuang untuk keluarga ini."


Kalimat itu mungkin terdengar biasa, tetapi bagi banyak suami, itulah bahan bakar yang membuatnya sanggup melanjutkan perjuangan hidupnya.


Karena itu, jika cinta adalah cahaya rumah tangga, maka respek adalah tiang yang menopangnya. Ketika keduanya hadir bersama, rumah tangga akan menjadi tempat yang menenangkan, menguatkan, dan membahagiakan bagi suami, istri, dan anak-anak.


"Seorang suami yang dihormati akan semakin kuat mencintai. Dan seorang istri yang dicintai akan semakin mudah menghormati. Dari sinilah lahir keluarga sakinah."

Bagikan:WhatsApp