Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Mengapa Kita Perlu Berdakwah Dan Memiliki Binaan?

·4 menit baca

BANYAK orang bersemangat dalam berdakwah, namun berhenti pada sekadar menyampaikan. Ia berbicara, menasihati, mengingatkan, lalu merasa telah menunaikan kewajiban. Padahal hakikat dakwah bukan hanya menyentuh telinga, tetapi menembus hati dan mengubah kehidupan. 


Perubahan itu tidak lahir dari satu kali nasihat, melainkan dari proses panjang yang dikenal dengan tarbiyah (pembinaan yang berkelanjutan). Di sinilah letak pentingnya dakwah yang diiringi dengan pembinaan.


Islam tidak hanya memerintahkan kita untuk menyeru, tetapi juga membimbing hingga kebenaran itu hidup dan menetap dalam jiwa manusia. Allah Ta’ala berfirman:


"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk" (QS. An-Nahl: 125)


Menyeru adalah langkah awal, namun bukan akhir. Ketika hati mulai tersentuh, di situlah amanah berikutnya dimulai. Ia membutuhkan pendampingan, penguatan, dan pengarahan. Ia perlu diingatkan saat futur, diteguhkan saat goyah, dan dibimbing saat bingung. Tanpa pembinaan, dakwah seringkali hanya menjadi percikan semangat yang cepat menyala, namun mudah padam.


Rasulullah saw adalah teladan dalam hal ini. Beliau tidak hanya berdakwah, tetapi juga membina. Para sahabat bukan sekadar pendengar, melainkan binaan yang ditempa dengan Al-Qur’an dan iman. Mereka dibersamai dalam proses, diluruskan dengan kasih sayang, hingga menjadi generasi terbaik umat ini. Dari rahim pembinaan itulah lahir Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum, manusia-manusia yang tidak hanya memahami kebenaran, tetapi hidup sepenuhnya di atasnya.


Maka, berdakwah dan memiliki binaan bukan sekadar pilihan bagi aktivis, melainkan bagian dari konsekuensi iman. Rasulullah saw bersabda :


"Sampaikan dariku walau satu ayat." (HR. Bukhari)


Namun menyampaikan satu ayat bukan berarti selesai dalam satu pertemuan. Justru di situlah awal dari amanah. Ketika seseorang mulai berubah melalui perantara kita, maka kita memiliki tanggung jawab untuk menjaganya agar tetap istiqamah di jalan Allah.


Dakwah dan pembinaan juga merupakan bentuk syukur atas nikmat hidayah. Allah telah menganugerahkan cahaya iman kepada kita, maka tidak selayaknya kita hanya menikmatinya sendiri. Hidayah yang tidak dibagikan akan terasa sempit, sementara hidayah yang diperjuangkan untuk orang lain akan semakin menguatkan dan meneguhkan hati kita.


Di sisi lain, pembinaan adalah cermin keikhlasan. Berdakwah di hadapan banyak orang mungkin terlihat mulia dan bisa membuat kita tenar, tetapi membina satu jiwa dalam diam, mengajarinya tentang aqidah, menguatkannya saat jatuh, mendengarkan kegelisahannya, itulah ladang amal yang sarat keikhlasan. Amal tanpa imbalan materi, kecuali mendapatkan pahala dan ridho Allah SWT. Tidak semua orang mampu bersabar dalam proses ini, karena hasilnya tidak instan dan tidak selalu terlihat.


Memiliki binaan juga melatih kerendahan hati dan kesabaran. Kita menyadari bahwa hidayah adalah milik Allah, dan perubahan tidak terjadi seketika. Sebagaimana kita dahulu berproses, demikian pula orang lain. Kita belajar sabar, belajar memahami, dan belajar mencintai karena Allah.


Urgensi dakwah dan pembinaan semakin nyata di tengah derasnya fitnah zaman. Informasi yang liar, godaan yang begitu dekat yang membuat seseorang yang baru berhijrah sangat rentan kembali tergelincir. Setiap orang membutuhkan lingkungan yang meneguhkan, arah yang jelas, dan tangan yang menggenggamnya agar tetap kokoh dalam keimanan. Allah Ta’ala berfirman :


"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung". (QS. Ali Imran: 104)


Ayat ini bukan hanya tentang seruan, tetapi tentang keberlangsungan gerakan kebaikan. Dan keberlangsungan itu tidak akan terwujud tanpa pembinaan yang sungguh-sungguh.


Bayangkan jika setiap orang yang mendapatkan hidayah kemudian membina beberapa orang saja, lalu orang itu membina beberapa orang lagi. Maka kebaikan tidak hanya menyebar luas, tetapi juga mengakar kuat dan bertahan lama.


Sebaliknya, jika dakwah hanya berhenti di lisan tanpa pembinaan, maka yang lahir adalah generasi yang tahu, tetapi tidak kokoh. Semangat di awal, namun rentan gugur di tengah jalan.


Maka jangan puas hanya menjadi penyampai. Jadilah pembina. Jangan hanya hadir saat seseorang sedang bersemangat, tetapi tetaplah setia saat ia mulai melemah.

Karena bisa jadi, satu jiwa yang kita bina dengan penuh kesungguhan lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada seribu orang yang hanya kita ajak tanpa kita jaga.


Akhirnya....

Dakwah adalah mengajak.

Pembinaan adalah menjaga.

Dan menjaga adalah bentuk cinta paling nyata dalam perjalanan kita menuju ridha Allah SWT.

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya