Kembali ke artikel
Siapakah Orang Terbaik Itu?
·2 menit baca
By. Satria hadi lubis
SIAPAKAH orang yang terbaik di dunia? Pertanyaan ini sering mampir di kepala kita. Apakah orang yang paling kaya? Paling pintar? Paling terkenal? Atau yang paling banyak pengikutnya?
Al-Qur’an yang mulia menjawabnya dengan sangat lugas dan menghujam.
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (QS. Fussilat: 33)
Ayat ini seperti menata ulang standar “terbaik” versi langit. Orang terbaik itu bukan yang paling lantang suaranya, tapi yang paling mengajak kepada Allah. Bukan berarti harus ceramah di mimbar, bukan harus viral di media sosial. Kadang hanya dengan sikap, dengan kejujuran, dengan akhlak yang membuat orang lain bertanya, “Kok dia bisa sibuk dakwah tapi rezeki gak pernah seret? Koq dia bisa tenang di tengah kerumitan hidup?”
Orang terbaik itu bukan yang banyak bicara kosong, tapi yang banyak berbuat kebaikan. Lisannya banyak mengajak, tangannya bekerja, kakinya melangkah. Apa yang ia katakan selaras dengan apa yang ia lakukan. Tidak sempurna, tapi sungguh-sungguh.
Dan yang paling menyejukkan, ia tidak merasa paling hebat.
Ia justru berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Tidak jumawa. Tidak merasa paling benar. Ia tahu, semua ini bukan karena dirinya, tapi karena Allah yang menolongnya.
Jadi, kalau hari ini kita bertanya, “Sudahkah aku menjadi orang terbaik?” Mungkin pertanyaannya bisa dipersempit :
Apakah aku berdakwah mendekatkan orang kepada Allah? Apakah ucapanku sejalan dengan perbuatanku? Apakah aku masih merasa butuh Allah dalam setiap langkah?
Sebab menurut Al-Qur’an, orang terbaik itu bukan yang paling tinggi derajatnya di mata manusia, tapi yang paling ikhlas mengajak kepada Allah, berbuat baik, dan berserah diri sepenuh jiwa.
Bagikan:WhatsApp