Belajar Bangkit Dari Kehancuran: Kisah Abdurrahman Ad-Dakhil, Penguasa Cordova
BELAJAR BANGKIT DARI KEHANCURAN:
KISAH ABDURRAHMAN AD-DAKHIL, PENGUASA CORDOVA
By. Satria hadi lubis
DALAM sejarah Islam, ada banyak tokoh besar yang lahir dari kenyamanan dan kemewahan. Namun ada juga tokoh yang justru menjadi besar setelah melewati penderitaan panjang, kehilangan keluarga, hidup dalam pelarian, dan menghadapi ancaman kematian setiap hari. Salah satu tokoh itu adalah Abdurrahman ad-Dakhil, pendiri kekuasaan Islam di Andalusia (Spanyol).
Namanya begitu harum dalam sejarah. Ia dijuluki Saqr Quraisy atau “Elang Quraisy” karena kecerdasan, keberanian, dan kemampuan politiknya yang luar biasa. Bahkan musuh-musuhnya pun mengakui kehebatannya.
Abdurrahman lahir dari keluarga Dinasti Umayyah di Damaskus, Suriah. Ia tumbuh di lingkungan istana, hidup dalam kemewahan, dan berasal dari keluarga penguasa besar dunia Islam saat itu. Tetapi Allah menakdirkan hidupnya berubah drastis dalam waktu singkat.
Pada tahun 750 M, terjadi revolusi besar yang dipimpin Bani Abbasiyah. Mereka menggulingkan Dinasti Umayyah dan memburu seluruh keturunannya untuk dibunuh. Pembantaian terjadi di mana-mana. Banyak anggota keluarga Umayyah dibunuh tanpa ampun.
Saat itu Abdurrahman masih muda, sekitar dua puluh tahun. Ia harus menyaksikan sendiri keluarganya dibantai. Dalam keadaan panik dan penuh ketakutan, ia melarikan diri bersama adiknya serta beberapa orang terdekatnya. Mereka terus dikejar pasukan Abbasiyah.
Suatu hari mereka sampai di tepi Sungai Eufrat. Pasukan musuh sudah hampir menangkap mereka. Tidak ada pilihan lain selain menyeberangi sungai.
Abdurrahman dan adiknya berenang menembus arus sungai dengan penuh ketakutan. Ketika hampir sampai, pasukan Abbasiyah berteriak kepada adiknya:
“Kembalilah! Kami tidak akan membunuhmu!” Adiknya yang masih muda dan ketakutan mulai percaya. Ia berbalik arah menuju tepi sungai. Tetapi ternyata itu hanyalah tipu daya. Begitu sampai, ia langsung dibunuh di depan mata Abdurrahman.
Bayangkan perasaan Abdurrahman saat itu. Ia tidak bisa menolong saudaranya. Ia hanya bisa terus berenang sambil menangis dan menyelamatkan dirinya sendiri.
Sejak saat itu hidupnya berubah total. Dulu ia seorang bangsawan istana. Sekarang ia menjadi buronan. Dulu hidupnya penuh kenyamanan. Sekarang ia tidur di gurun pasir, bersembunyi di hutan, berpindah-pindah tempat, dan hidup dalam ancaman pembunuhan.
Tetapi yang luar biasa, semua penderitaan itu tidak membuatnya menyerah kepada keadaan. Abdurrahman terus bergerak. Ia menempuh perjalanan panjang dari Syam menuju Palestina, lalu ke Mesir, Afrika Utara, hingga akhirnya sampai di Andalusia. Perjalanan itu sangat berat. Ia harus melewati panas gurun, kelaparan, pengkhianatan, dan ancaman musuh di sepanjang jalan.
Terkadang ia harus menyamar. Terkadang ia harus bersembunyi berhari-hari. Bahkan ada saat di mana ia hampir tertangkap.
Namun dalam semua penderitaan itu, Abdurrahman tetap memiliki satu hal yang tidak hilang: HARAPAN. Ia yakin bahwa hidupnya belum selesai. Ia yakin Allah masih memiliki rencana besar untuk dirinya.
Sesampainya di Andalusia, kondisi kaum muslimin saat itu sedang kacau. Banyak kelompok saling berebut kekuasaan. Persatuan melemah. Politik penuh konflik. Melihat keadaan itu, Abdurrahman tidak memilih hidup tenang dan aman. Ia justru berpikir bagaimana membangun kembali kekuatan Islam.
Dengan kecerdasan politiknya, ia mulai mendekati berbagai kelompok dan suku. Ia membangun hubungan, menyusun strategi, dan perlahan mengumpulkan kekuatan.
Akhirnya pada tahun 756 M, Abdurrahman berhasil mengalahkan penguasa setempat dan mendirikan pemerintahan Islam Umayyah di Cordova. Dari seorang buronan yang nyaris terbunuh, kini ia menjadi pemimpin besar.
Tetapi perjuangannya belum selesai. Setelah menjadi penguasa, Abdurrahman tidak tenggelam dalam kemewahan dunia. Ia sadar bahwa kekuasaan adalah amanah besar.
Ia mulai membangun Andalusia dengan serius.
Ia memperkuat militer agar negeri aman dari serangan musuh. Ia membangun ekonomi agar rakyat makmur. Ia memperhatikan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Ia membangun berbagai fasilitas umum dan memperindah kota Cordova. Salah satu peninggalannya yang terkenal adalah Masjid Cordova, masjid megah yang kemudian menjadi simbol kejayaan Islam di Andalusia.
Di bawah kepemimpinannya, Cordova berubah menjadi kota maju dan beradab. Ilmu pengetahuan berkembang pesat. Kebersihan kota diperhatikan. Perdagangan maju. Keamanan terjaga. Bahkan pada masa berikutnya, Cordova menjadi salah satu kota paling maju di dunia ketika sebagian wilayah Eropa masih berada dalam masa kegelapan.
Semua itu bermula dari seorang pemuda yang dulu hidup dalam pelarian.
Kisah Abdurrahman ad-Dakhil mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan besar sering lahir dari penderitaan besar.
Hari ini banyak orang mudah menyerah hanya karena gagal usaha, gagal kuliah, dihina orang, atau hidup belum sesuai harapan. Sedikit ujian langsung merasa hidupnya paling berat.
Padahal lihatlah Abdurrahman ad-Dakhil.
Ia kehilangan keluarga.
Ia kehilangan tanah air.
Ia kehilangan kekuasaan.
Ia hidup diburu untuk dibunuh.
Tetapi ia tidak menyerah kepada keadaan.
Ia tetap bergerak, tetap berjuang, tetap berharap kepada Allah.
Dan akhirnya Allah mengangkat derajatnya menjadi salah satu pemimpin besar dalam sejarah Islam.
Gen Z hari ini perlu belajar dari tokoh seperti beliau. Bahwa hidup bukan tentang mencari kenyamanan terus-menerus. Hidup adalah tentang perjuangan, kesabaran, pengorbanan, dan keberanian bangkit setelah jatuh.
Kadang Allah menghancurkan kenyamanan kita agar kita tumbuh menjadi lebih kuat.
Kadang Allah mengambil sesuatu dari hidup kita agar kita bergerak menuju sesuatu yang lebih besar.
Maka jangan mudah putus asa.
Selama kita masih dekat dengan Allah, masih mau berusaha, masih mau bangkit, maka masa depan masih bisa berubah.
Karena sejarah membuktikan, seorang buronan yang kehilangan segalanya pun bisa bangkit menjadi pemimpin besar dunia.