Mengapa Membina Membuat Kita Bahagia?
DI TENGAH kehidupan modern yang serba sibuk, banyak orang mencari kebahagiaan ke berbagai tempat. Ada yang mengejarnya melalui harta, jabatan, popularitas, atau hiburan. Namun sering kali, setelah semua itu diraih, hati tetap terasa kosong.
Salah satu sumber kebahagiaan yang sering terlupakan adalah membina manusia. Dalam istilah dakwah, membina berarti membantu orang lain menjadi lebih dekat kepada Allah, lebih baik akhlaknya, lebih kuat ibadahnya, dan lebih lurus jalan hidupnya.
Mengapa membina membuat kita bahagia?
1. Karena Membina Adalah Misi Para Nabi.
Seluruh nabi diutus bukan untuk mengumpulkan kekayaan, melainkan untuk membimbing manusia menuju jalan Allah. Ketika kita ikut membina seseorang, sesungguhnya kita sedang menapaki jalan yang pernah ditempuh para nabi. Allah SWT berfirman:
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim'." (QS. Fushshilat: 33)
Tidak ada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada merasa hidup kita memiliki misi yang mulia.
2. Karena Kita Melihat Perubahan Nyata Pada Seseorang.
Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika melihat seseorang yang dulunya jauh dari Islam kemudian menjadi dekat dengan Islam dan memperjuangkannya. Yang dulunya malas membaca Al-Qur'an menjadi akrab dengan Al-Qur'an. Yang dulunya sering bermaksiat mulai meninggalkannya. Rasulullah saw bersabda:
"Sungguh, jika Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh dunia. Tetapi ketika satu orang berubah menjadi lebih baik karena pembinaan yang kita lakukan, hati merasakan kebahagiaan yang sangat dalam.
3. Karena Membina Membuat Hidup Lebih Bermakna.
Banyak orang hidup hanya untuk dirinya sendiri. Akibatnya, hidup terasa sempit. Sebaliknya, ketika kita mulai memikirkan kemajuan orang lain, hidup menjadi lebih luas dan bermakna.
Setiap pertemuan, setiap nasihat, setiap pesan pengingat yang kita kirimkan, semuanya menjadi investasi akhirat. Kita tidak lagi sekadar hidup untuk makan, bekerja, dan tidur. Kita hidup untuk meninggalkan jejak kebaikan.
4. Karena Pahala Terus Mengalir.
Salah satu sumber kebahagiaan seorang mukmin adalah ketika ia menyadari bahwa pahala terus mengalir kepadanya, meskipun ia sedang beristirahat. Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim)
Bayangkan jika orang yang kita bina kemudian mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Pahala akan terus mengalir seperti mata air yang tidak pernah kering. Sayangnya, pahala itu tidak terlihat, sehingga banyak orang yang lupa dengan imbalannya yang besar.
5. Karena Membina Membuat Kita Ikut Menjadi Baik.
Menariknya, orang yang membina justru sering mendapatkan manfaat terbesar. Saat mengajak orang lain shalat, kita terdorong menjaga shalat kita sendiri. Saat mengingatkan orang lain untuk ikhlas, kita belajar memperbaiki keikhlasan diri sendiri. Saat mengajak orang lain berdakwah dan membina, kita malu jika diri kita sendiri tidak berdakwah dan membina.
Ketahuilah...membina orang lain adalah cara yang paling efektif untuk membina diri sendiri semakin baik.
6. Karena Kita Tidak Sendirian Menuju Surga.
Perjalanan menuju surga bukan perjalanan yang mudah. Jalan ini penuh ujian, godaan, dan keletihan. Ketika kita membina dan dibina, kita memiliki saudara-saudara yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Ada yang menguatkan saat kita lemah. Ada yang menasihati saat kita lalai. Ada yang mendoakan saat kita tidak mengetahuinya.
Inilah salah satu bentuk kebahagiaan terbesar dalam kehidupan seorang muslim.
Maka jika hari ini kita ingin hidup lebih bahagia, jangan hanya berpikir tentang apa yang bisa kita dapatkan dari orang lain. Mulailah berpikir tentang siapa yang bisa kita bantu menjadi lebih dekat kepada Allah.
Karena bisa jadi, kebahagiaan terbesar bukan ketika kita berhasil memperbaiki hidup kita sendiri. Tetapi ketika Allah mengizinkan kita menjadi sebab hidayah, kebaikan, dan perubahan bagi kehidupan orang lain.
Siapa tahu, orang yang kita bina hari ini kelak menjadi salah satu alasan mengapa timbangan amal kita berat di akhirat.