Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Bagaimana Jika Kita Merasa Diabaikan?

·3 menit baca

DALAM perjalanan hidup, tidak semua momen terasa hangat. Ada kalanya kita hadir di komunitas tertentu, termasuk di halaqah (liqo’), namun hati terasa jauh. Kita hadir, tetapi seolah tidak dianggap. Tidak ditanya kabar, tidak dilibatkan, bahkan mungkin terasa seperti “tidak dibutuhkan”.


Perasaan ini manusiawi. Namun yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapinya.


1. Luruskan kembali niat.

Perlu diluruskan niat, komunitas apapun yang baik, termasuk liqo’ , bukan untuk tempat mencari perhatian manusia, tetapi untuk mendekat kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:


“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (ikhlas)…” (QS. Al-Bayyinah: 5)


Jika niat kita adalah Allah, maka dihargai atau diabaikan oleh manusia tidak akan menggoyahkan langkah kita untuk memberikan sumbangsih. Kita datang karena ingin belajar, memperbaiki diri, dan menjaga iman.


2. Nilai kita tidak diukur dari perhatian manusia.

Kadang kita merasa diabaikan karena tidak mendapat sorotan. Padahal, kemuliaan di sisi Allah tidak bergantung pada itu. Rasulullah saw bersabda:


“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)


Bisa jadi kita tidak diperhatikan manusia, tetapi sangat diperhatikan oleh Allah karena keikhlasan kita.


3. Husnuzhan dan introspeksi

Sebelum menyalahkan keadaan, coba lihat ke dalam diri kita: Apakah kita sudah aktif berinteraksi? Sudahkah kita berusaha memahami mereka? Atau kita justru yang menuntut agar mereka memahami kita? Kita mungkin lebih banyak su'uzhon (bersangka buruk) daripada husnuzhon (bersangka baik) kepada mereka. 


Allah Ta'ala mengingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain

…” (QS. Al-Hujurat: 12)


Bisa jadi bukan mereka yang mengabaikan, tetapi kita yang terlalu menutup diri dan egois.


4. Jadilah yang memberi, bukan menunggu diberi.

Dalam pergaulan, keberkahan sering datang dari memberi.

Rasulullah saw bersabda:


“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Cobalah untuk menyapa lebih dulu, bertanya kabar mereka, aktif menghidupkan suasana. Kadang, ketika kita mulai memberi perhatian, kita justru menemukan perhatian itu kembali. Barang siapa yang menanam, dia yang akan menuai.


5. Sabar dalam proses 

Hubungan dalam sebuah komunitas, termasuk dalam sebuah liqo’ tidak selalu langsung hangat. Ia butuh waktu, kesabaran, dan keistiqamahan. Allah SWT berfirman:


“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)


Tetaplah hadir, tetap belajar, tetap menjaga hati. Jangan menjauh hanya karena perasaan sesaat (jangan baperan).


6. Jika perlu, komunikasikan dengan adab.

Jika perasaan itu terus berulang, tidak salah untuk menyampaikan dengan baik kepada mereka dengan cara beradab. Bisa jadi karena mereka tidak menyadarinya. Islam mengajarkan komunikasi yang baik:


“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra’: 53)


Merasa diabaikan dalam liqo' atau dalam komunitas memang tidak nyaman. Tetapi jangan sampai perasaan itu membuat kita menjauh dari tempat-tempat kebaikan.


Ingatlah, kita datang bukan untuk dilihat manusia, tetapi untuk dilihat oleh Allah Ta'ala. Bukan untuk dipuji, tetapi untuk mendapatkan kebaikan. Bisa jadi, justru di saat kita merasa “tidak dianggap”, di situlah Allah sedang menguji keikhlasan kita.


Tetaplah hadir. Tetaplah belajar. Tetaplah menjaga hati.

Karena yang paling penting bukan apakah kita diperhatikan manusia, tetapi apakah kita diperhatikan oleh Allah SWT atau tidak.

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya